Beranda Kediri Raya Kekerasan Seksual Berbasis Game Online Mengkhawatirkan, 4 Kasus Terjadi di Tulungagung

Kekerasan Seksual Berbasis Game Online Mengkhawatirkan, 4 Kasus Terjadi di Tulungagung

1239
Ilustrasi anak yang bermain game online dan butuh pengawasan orang tua agar tidak jadi korban kekerasan seksual. (Foto. Unsplash/Ralston Smith)
Ilustrasi anak yang bermain game online dan butuh pengawasan orang tua agar tidak jadi korban kekerasan seksual. (Foto. Unsplash/Ralston Smith)

TULUNGAGUNG, KUBUS.ID – Kasus kekerasan seksual terhadap anak yang bermula dari aktivitas di ranah digital, seperti game online dan media sosial, menjadi perhatian serius di Kabupaten Tulungagung. Lemahnya literasi digital anak dinilai membuat mereka rentan menjadi sasaran predator di dunia maya.

Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas KB PP3A Kabupaten Tulungagung, Dwi Yanuarti, mengatakan modus pelaku umumnya diawali dari pertemanan biasa di platform digital.

Pelaku kemudian membangun kedekatan dengan anak melalui sejumlah platform, seperti game online, Telegram, maupun Facebook. Hubungan tersebut dapat berkembang menjadi aksi child grooming atau pendekatan untuk membangun kepercayaan anak, hingga love bombing dengan memberikan perhatian dan kasih sayang secara berlebihan.

Menurut Dwi, setelah korban merasa nyaman dan percaya, pelaku dapat mulai mengarahkan komunikasi ke hal-hal yang bersifat seksual. Kekerasan seksual bahkan bisa terjadi secara digital melalui pengiriman atau permintaan konten video asusila, termasuk video call sex (VCS), maupun berlanjut hingga pertemuan secara langsung.

“Orang tua harus tahu anak berinteraksi dengan siapa dan apa saja yang diakses di dunia maya. Anak yang terlihat aman karena hanya berada di rumah atau di kamar, belum tentu benar-benar aman,” tegas Dwi.

Karena itu, pengawasan keluarga menjadi salah satu benteng utama untuk mencegah anak menjadi korban. Pengawasan tersebut bukan sekadar membatasi penggunaan gawai, tetapi juga membangun komunikasi terbuka agar anak merasa nyaman bercerita ketika mengalami sesuatu yang mencurigakan di dunia maya.

Dwi juga mendorong penguatan literasi digital, baik bagi anak maupun orang tua. Pemahaman mengenai risiko pertemanan daring, privasi, serta modus pendekatan predator anak dinilai penting agar anak mampu mengenali situasi yang berpotensi membahayakan.

Selain pengawasan digital, anak juga perlu didorong mengikuti kegiatan positif di lingkungan nyata, seperti forum anak maupun kegiatan ekstrakurikuler. Aktivitas tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan anak terhadap interaksi di dunia maya.

Pemenuhan kebutuhan emosional anak juga menjadi perhatian. Menurut Dwi, kasih sayang dan perhatian dari keluarga maupun pengasuh penting agar anak tidak mudah mencari perhatian, penerimaan, atau kedekatan emosional dari orang asing di internet.

Dwi mengingatkan masyarakat agar tidak menyalahkan anak ketika menjadi korban kekerasan seksual. Penanganan harus dilakukan dengan memberikan dukungan kepada korban sekaligus memperkuat sinergi antara keluarga, lingkungan, dan pemerintah.

“Jangan menyalahkan anak ketika menjadi korban. Yang harus kita lakukan adalah mencari solusi bersama dan memperkuat perlindungan agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya. (far)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini