KEDIRI, KUBUS.ID – Hari Radio Nasional menjadi momentum bagi industri radio untuk memperkuat strategi menghadapi persaingan di tengah pesatnya perkembangan platform digital.
Praktisi media sekaligus Staf Khusus Menteri Hukum Bidang Media, Yadi Hendriana, menilai radio masih memiliki peluang besar untuk bertahan selama mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kebutuhan audiens.
Yadi mengatakan persaingan informasi saat ini semakin ketat karena masyarakat memiliki banyak pilihan, mulai dari media sosial, portal berita, hingga berbagai platform digital lainnya. Menurutnya, kecepatan menyampaikan informasi saja tidak lagi cukup. Radio perlu menghadirkan konten yang akurat, interaktif, mudah diakses, dan dikemas sesuai karakter pendengarnya.
“Kecepatan saja sudah tidak cukup bagi masyarakat mendapatkan informasi. Tetapi bagaimana informasi itu dikemas dengan baik, interaktif, dan bisa diakses oleh semua kalangan, dan tentu akurat,” kata Yadi dalam wawancara memperingati Hari Radio Nasional.
Radio Perlu Beradaptasi dengan Ekosistem Digital
Menurut Yadi, kemampuan radio masuk ke berbagai platform menjadi salah satu modal untuk mempertahankan keberadaannya. Radio kini tidak hanya mengandalkan siaran konvensional, tetapi juga dapat hadir melalui streaming, aplikasi, podcast, YouTube, dan media sosial.
Ia juga menilai radio memiliki keunggulan karena relatif mudah dan murah diakses masyarakat. Kondisi tersebut perlu dipertahankan sembari mengikuti perubahan perilaku audiens, khususnya generasi muda yang semakin dekat dengan platform digital.
“Radio itu punya daya survival yang sangat kuat,” ujarnya.
Yadi juga mendorong radio di daerah untuk memiliki ciri khas yang kuat agar mudah dikenali masyarakat. Menurutnya, identitas tersebut penting untuk menjaga loyalitas audiens di tengah banyaknya pilihan media.
Selain konten, efisiensi produksi juga dinilai menjadi faktor penting. Yadi menyebut radio perlu mengadopsi pola produksi berbiaya rendah atau low cost production agar tetap mampu bersaing secara bisnis.
“Kalau radio mampu low cost production, itu akan mendapatkan keuntungan dan tentunya radio akan survive,” katanya.
Kedekatan dengan Pendengar Jadi Kunci
Yadi menambahkan, radio tidak cukup hanya beradaptasi secara teknologi. Kedekatan dengan masyarakat dan komunitas juga harus dipertahankan melalui komunikasi dua arah, kegiatan off-air, serta keterlibatan langsung di tengah masyarakat.
Menurut dia, proses adaptasi harus dilakukan pada dua sisi, yakni model bisnis dan model konten. Radio yang mampu menyesuaikan keduanya dinilai memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
“Harus adaptif. Kalau radio tidak adaptif dengan kondisi saat ini, dengan disrupsi digital saat ini, pasti dia tidak akan mampu bertahan,” ujarnya.
Yadi menilai langkah konvergensi yang dilakukan Radio ANDIKA melalui streaming, podcast, video, dan berbagai platform media sosial sudah berada di jalur yang tepat. Namun, ia mengingatkan agar ekspansi digital tetap diikuti dengan pemeliharaan hubungan bersama pendengar.
“Kalau maintenance dengan audiens atau pendengar bisa dilakukan dengan baik, maka itu akan sangat kuat sekali radionya,” kata Yadi.(art)































