Beranda Nasional Erupsi Gunung Anak Krakatau Berdampak Luas, Abu Vulkanik Capai Jakarta hingga Bandung

Erupsi Gunung Anak Krakatau Berdampak Luas, Abu Vulkanik Capai Jakarta hingga Bandung

497
Vulkanolog Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN, Dr. Dini Nurfiani. (Dok. Pribadi)

KUBUS.ID – Erupsi Gunung Anak Krakatau pada 5 September 2026 menyebabkan sebaran abu vulkanik meluas hingga sejumlah wilayah di Pulau Jawa. Abu berukuran halus terbawa angin hingga mencapai Jakarta dan Bandung.

Vulkanolog Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN, Dr. Dini Nurfiani, menjelaskan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dipengaruhi kondisi angin pada saat erupsi.

Berdasarkan pemodelan sementara, arah sebaran abu pada 4 September 2026 cenderung menuju barat. Sementara pada 5 September, arah sebaran berubah ke timur dan mencapai wilayah Jakarta hingga Bandung.

“Ketika dimodelkan dengan kondisi angin di tanggal 5 September, ada kecenderungan ke arah timur. Ke arah timur itu mencapai Jakarta, bahkan mencapai Bandung juga,” ujar Dini.

Menurut Dini, abu vulkanik yang berukuran halus dapat terbawa angin dalam jarak yang cukup jauh. Kondisi tersebut membuat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dapat dirasakan di wilayah yang relatif jauh dari sumber erupsi.

Berdasarkan laporan BMKG yang disampaikan dalam pembahasan tersebut, ketinggian kolom erupsi Gunung Anak Krakatau diperkirakan mencapai sekitar 6 hingga 14 kilometer.

Dini mengatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung meski pada Senin, 7 September 2026 hingga pukul 06.00 WIB tidak teramati asap kawah maupun letusan secara visual. Pengamatan visual terkendala kondisi puncak gunung yang tertutup kabut.

Sementara itu, pengamatan instrumental masih menunjukkan adanya aktivitas berupa gempa tremor vulkanik. Getaran tersebut berkaitan dengan pergerakan magma atau gas di dalam tubuh gunung api.

“Jadi memang masih di dalam tubuhnya itu masih aktif. Dan PVMBG masih memantau terkait aktivitasnya,” jelas Dini.

Sebaran abu vulkanik saat ini disebut mulai menipis. Namun, masyarakat di wilayah terdampak tetap perlu mewaspadai potensi gangguan kesehatan akibat paparan abu.

Dini menyebut paparan abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi mata, batuk, hingga gangguan pernapasan. Masyarakat disarankan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan dan membatasi aktivitas di luar jika kondisi abu masih terasa.

Terkait potensi tsunami, pemantauan muka air laut di sekitar Krakatau terus dilakukan menggunakan perangkat yang menjadi bagian dari sistem peringatan dini tsunami.

Pemantauan tersebut dilakukan secara kolaboratif oleh pihak terkait, termasuk BMKG dan PVMBG.

“Namun, dari hasil pengamatan perangkat tersebut sejak Jumat 4 September itu tidak terlihat adanya anomali atau ancaman tsunami,” kata Dini.

Meski demikian, pemantauan muka air laut tetap dilakukan untuk mengantisipasi perubahan kondisi di sekitar Gunung Anak Krakatau. Dini juga menyampaikan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berpotensi mengalami erupsi kembali karena aktivitas vulkanik masih terpantau. (stm)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini