KEDIRI, (KUBUS.ID) – Puluhan pedagang Pasar Pahing Kota Kediri melampiaskan kekecewaan atas polemik pengelolaan pasar dengan memasang sebanyak enam banner penolakan pada Senin sore (07/09). Aksi ini ditempuh sebagai bentuk protes agar keresahan mereka segera mendapatkan atensi dan jawaban konkret dari Perumda Pasar Joyoboyo Kota Kediri.
Pujito, selaku perwakilan pedagang Pasar Pahing, menyatakan bahwa pemasangan atribut penolakan tersebut murni merupakan akumulasi kekecewaan para pedagang. Menurutnya, berbagai persoalan pelik yang dikeluhkan tak kunjung memperoleh solusi yang memihak dari manajemen pasar.
“Aksi ini merupakan bentuk kekecewaan pedagang yang tak kunjung mendapatkan solusi dari permasalahan yang ada,” ujar Pujito.
Ia merinci, akar permasalahan utama yang memicu kemarahan pedagang adalah lonjakan nominal biaya retribusi dan pengelolaan yang wajib dibayarkan saat ini. Kenaikan beban finansial tersebut dinilai sangat memberatkan operasional para pedagang di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Selain masalah kenaikan biaya, perubahan mendasar terkait legalitas kepemukaan tempat usaha turut menjadi sorotan tajam. Status ruko yang semula diatur sebagai hak guna pakai kini secara sepihak diubah menjadi hak sewa biasa oleh pihak pengelola.
“Yang awalnya status ruko adalah hak guna pakai yang sekarang hanya hak sewa saja, di mana ini tidak sesuai dengan perjanjian awal,” tegas Pujito.
Menanggapi mandeknya komunikasi ini, para pedagang sepakat untuk terus melanjutkan aksi penolakan hingga ada titik terang. Mereka menuntut pihak manajemen Perumda Pasar Joyoboyo untuk segera membuka ruang dialog yang transparan dan adil bagi seluruh penyewa ruko.
“Sebelum ada negosiasi yang jelas, pedagang akan terus melakukan penolakan. Semoga regulasi bisa diperbaiki dan disesuaikan dengan apa yang diharapkan para pedagang, agar pasar kembali normal,” pungkasnya.(sof/stm)






























