
KEDIRI, (KUBUS.ID) – Erupsi sejumlah gunung api di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir kembali menjadi perhatian masyarakat. Fenomena tersebut memunculkan kekhawatiran sekaligus berbagai narasi mengenai kemungkinan keterkaitan aktivitas satu gunung api dengan gunung api lainnya.
Kepala Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr. Ir. M. Haris Miftakhul Fajar, S.T., M.Eng., menjelaskan bahwa aktivitas erupsi gunung api merupakan bagian dari proses geologi yang berkaitan erat dengan dinamika tektonik dan aktivitas magma di bawah permukaan.
Menurut Haris, posisi Indonesia yang berada pada zona pertemuan lempeng tektonik menjadi salah satu faktor utama tingginya aktivitas vulkanik. Tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia berperan dalam proses pembentukan dan pergerakan magma yang pada kondisi tertentu dapat memicu erupsi.
“Tumbukan lempeng Indo-Australia dan Eurasia menjadi salah satu pemicu aktivitas magma gunung berapi. Kondisi ini menyebabkan gunung api harus mengeluarkan sebagian material yang berada di dalamnya,” kata Haris.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu menganggap bahwa meningkatnya aktivitas beberapa gunung api secara bersamaan secara otomatis menunjukkan adanya hubungan langsung antargunung. Setiap gunung api memiliki karakteristik, sistem magma, serta siklus erupsinya masing-masing.
Haris menegaskan, hingga saat ini tidak terdapat dasar ilmiah yang menunjukkan bahwa erupsi satu gunung secara spesifik akan menyebabkan gunung api lain ikut meletus.
“Karakteristik setiap gunung di Indonesia tidak sama. Setiap gunung memiliki siklus erupsi sendiri-sendiri, sehingga tidak terhubung secara langsung,” jelasnya.
Ia juga menyinggung mitologi yang berkembang di masyarakat mengenai keterkaitan erupsi Gunung Semeru dengan Gunung Merapi. Menurutnya, kepercayaan tersebut tidak dapat dijadikan dasar ilmiah untuk menyimpulkan adanya hubungan sebab-akibat antaraktivitas gunung api.
Namun, kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan karena aktivitas vulkanik dapat berubah dan sulit dipastikan secara tepat, baik dari sisi waktu maupun besarnya erupsi.
“Siklus gunung berapi tidak dapat diprediksi secara pasti, termasuk besar atau kecilnya letusan. Tidak ada penghubung secara spesifik yang memicu satu gunung api erupsi kemudian gunung api lainnya mengalami hal serupa,” terang Haris.
Sebab dari sekitar 120 gunung api yang berada di Indonesia, Gunung Merapi dan Gunung Semeru dikenal sebagai dua gunung api yang memiliki aktivitas erupsi sangat tinggi. Salah satu karakteristik yang memungkinkan erupsi berlangsung lebih sering adalah sistem kepundan yang relatif terbuka sehingga material vulkanik dapat lebih mudah keluar.
Gunung Semeru, misalnya, memiliki intensitas erupsi yang lebih sering dibandingkan sejumlah gunung api lainnya, termasuk Gunung Merapi dan Gunung Anak Krakatau. Namun, frekuensi erupsi tidak secara otomatis menunjukkan bahwa suatu gunung akan mengalami letusan yang lebih besar.
Haris juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah mempercayai prediksi mengenai potensi letusan besar suatu gunung api yang belum didukung data ilmiah.
Termasuk narasi mengenai Gunung Anak Krakatau yang disebut berpotensi mengalami letusan lebih dahsyat dibandingkan gunung api lainnya. Menurutnya, kemungkinan tersebut tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan asumsi, tanpa mempertimbangkan kondisi dan data pemantauan terkini.
Aktivitas Gunung Kelud juga menjadi salah satu contoh bahwa peningkatan aktivitas kegempaan tidak selalu langsung diikuti oleh letusan besar.
Sebelum erupsi 2014, aktivitas kegempaan vulkanik Gunung Kelud telah beberapa kali terjadi. Namun, aktivitas tersebut tidak selalu berujung pada letusan besar. Kondisi berubah ketika terjadi peningkatan aktivitas magma dan pembentukan kubah lava atau dome yang kemudianberperan dalam sistem erupsi gunung tersebut.
“Berkaca pada aktivitas erupsi Gunung Kelud sebelum terjadi letusan, aktivitas kegempaan vulkanik sebelumnya sering terjadi, namun tidak selalu terjadi letusan besar. Pada 2014, ketika aktivitas magma semakin kuat dan terdapat sumbatan pada dome gunung, kemudian terjadilah erupsi yang sangat besar,” ujarnya.
Fenomena tersebut menunjukkan pentingnya pemantauan berbagai parameter kegunungapian secara berkelanjutan. Aktivitas gempa, perubahan bentuk tubuh gunung, emisi gas, hingga perubahan karakteristik material vulkanik menjadi bagian dari parameter yang diperlukan untuk memahami perkembangan aktivitas sebuah gunung api.
Haris menegaskan bahwa pemantauan aktivitas gunung api di Indonesia dilakukan secara intensif oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar dalam menentukan tingkat aktivitas dan memberikan rekomendasi kepada masyarakat.
Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial, terutama narasi yang mengaitkan erupsi beberapa gunung api tanpa dasar ilmiah.
Informasi mengenai aktivitas gunung api sebaiknya diperoleh dari sumber resmi dan kredibel, khususnya laporan serta rekomendasi PVMBG.
“Masyarakat diharapkan tidak mudah percaya dengan narasi yang disebarluaskan melalui media sosial,” tambah Haris.
Dengan memahami bahwa setiap gunung api memiliki karakteristik dan sistem vulkanik yang berbeda, masyarakat diharapkan dapat menyikapi fenomena erupsi secara lebih rasional. Erupsi merupakan bagian dari dinamika alam, tetapi tetap memiliki potensi bahaya sehingga kewaspadaan dan kepatuhan terhadap rekomendasi otoritas menjadi hal yang utama. (eko/art)





























