Beranda Kediri Raya Pakar Pangan UMM Buka Suara, Soal Temukan Ketidaksesuaian Nutrisi pada Beras Fortifikasi

Pakar Pangan UMM Buka Suara, Soal Temukan Ketidaksesuaian Nutrisi pada Beras Fortifikasi

1
Pakar Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P. (Foto. Redaksi)
Pakar Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P. (Foto. Redaksi)

MALANG, (KUBUS.ID) – Kementerian Pertanian mengungkapkan adanya ketidaksesuaian kandungan gizi pada sebagian besar beras fortifikasi yang beredar di pasaran. Dari 27 merek yang diuji, sebanyak 25 merek disebut tidak sesuai dengan standar kandungan gizi yang tercantum pada label kemasan.

Menanggapi temuan tersebut, Pakar Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P., menjelaskan bahwa perbedaan hasil pengujian antara pemerintah dan produsen dapat dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya perbedaan waktu pengujian maupun metode analisis yang digunakan oleh laboratorium.

Menurut Prof. Elfi, pemerintah telah menetapkan batas toleransi selisih hasil pengujian maksimal 20 persen. Apabila perbedaannya melebihi batas tersebut, klaim informasi nutrisi yang tercantum pada kemasan dapat dinilai tidak sesuai dengan hasil kandungan sebenarnya.

Prof. Elfi menjelaskan, beras fortifikasi merupakan beras biasa yang dicampur dengan butiran kernel fortifikan untuk meningkatkan kandungan nutrisi tertentu. Fortifikasi dapat mencakup zat besi, zinc, asam folat, hingga vitamin B1, dengan kandungan yang disesuaikan berdasarkan sasaran konsumsi, seperti balita stunting maupun ibu hamil.

Dari sisi regulasi, standar kualitas beras fortifikasi telah ditetapkan pemerintah. Bahan fortifikan mengacu pada SNI 9314:2024, sedangkan produk beras fortifikasi mengacu pada SNI 9372:2025.

Selain proses produksi dan pengujian, faktor penyimpanan juga menjadi perhatian. Prof. Elfi mengatakan sejumlah zat aktif dalam fortifikasi sensitif terhadap suhu, cahaya, dan paparan sinar matahari. Kondisi penyimpanan yang kurang tepat dapat memicu oksidasi sehingga kadar nutrisi berpotensi menurun seiring waktu.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengawasan beras fortifikasi tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga pengujian, pelabelan, hingga kondisi penyimpanan selama berada dalam rantai distribusi. (far)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini