Beranda Jawa Timur Bukan Segitiga Bermuda, Ini Penjelasan Ahli soal Jalur Masalembo

Bukan Segitiga Bermuda, Ini Penjelasan Ahli soal Jalur Masalembo

0
Kriyo Sambodho Dosen Departemen Teknik Kelautan ITS Surabaya
KEDIRI, KUBUS.ID – Jalur perairan Masalembo kembali menjadi sorotan setelah tragedi tenggelamnya KM Virgo Transport 8. Wilayah tersebut bahkan kerap dikaitkan dengan istilah “Segitiga Bermuda Indonesia”. Namun, ahli teknik kelautan menilai istilah tersebut tidak tepat dijadikan dasar untuk menyimpulkan penyebab kecelakaan kapal.

Dr. Eng. Kriyo Sambodho, ST, M.Eng, Dosen Departemen Teknik Kelautan, Program Studi Teknik Lepas Pantai Fakultas Teknologi Kelautan ITS Surabaya, mengatakan istilah “Segitiga Bermuda Indonesia” lebih banyak muncul dalam pemberitaan media. Menurutnya, jika dibuat garis berdasarkan jalur pelayaran, memang terdapat kawasan berbentuk segitiga yang menghubungkan Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi.

“Istilah segitiga Bermuda Indonesia itu hanya istilah yang muncul dari awak media. Kalau dibuat garis, memang ada ruas segitiga di jalur pelayaran ini,” kata Kriyo Sambodho yang akrab disapa Dhodot saat berbincang dengan Adnan Raharja, jurnalis ANDIKA Media.

Menurut Dhodot, jalur tersebut merupakan lintasan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Kalimantan dan Sulawesi. Keberadaan Pulau Masalembo di tengah jalur pelayaran juga dapat memengaruhi kondisi gelombang melalui fenomena shoaling atau amplifikasi gelombang akibat perubahan kedalaman perairan.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak dapat langsung disebut sebagai penyebab tenggelamnya KM Virgo Transport 8. Sebab, menurut Dhodot, sejumlah kecelakaan kapal di kawasan tersebut memiliki faktor berbeda, termasuk insiden yang berkaitan dengan kebakaran kapal seperti Tampomas dan KMP Citra Mutiara Sentosa.

“Shoaling tidak bisa sepenuhnya dijadikan faktor tunggal terjadinya tragedi pelayaran hingga tenggelam. Apakah shoaling menjadi salah satu faktor penyebab tenggelamnya KMP Virgo Transport 8, belum sepenuhnya bisa diyakini,” jelasnya.

Di sisi lain, Dhodot menyebut kondisi cuaca saat kejadian perlu mendapat perhatian. Berdasarkan data cuaca BMKG dan citra satelit yang dihimpunnya, kondisi saat tragedi KM Virgo Transport 8 terjadi masuk kategori ekstrem.

Ia menjelaskan, gelombang sekitar dua meter secara langsung masuk ke lambung kapal dinilai kecil kemungkinannya. Namun, kondisi konstruksi dan akses masuk kapal tetap perlu diperiksa, termasuk ramp door atau pintu untuk kendaraan menuju lambung kapal.

“Dengan kondisi gelombang setinggi dua meter, kemungkinan air langsung memasuki lambung kapal kecil. Namun ramp door bisa saja ada celah yang memungkinkan air masuk ke dalam lambung kapal,” ujarnya.

Dhodot menegaskan, penyebab utama tenggelamnya KM Virgo Transport 8 tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan lokasi pelayaran atau kondisi gelombang. Pemeriksaan terhadap kapal, kondisi cuaca, konstruksi, hingga faktor lain perlu dilakukan secara menyeluruh.

“Untuk memastikan penyebab utama tenggelamnya kapal Virgo Transport 8 perlu dilakukan penyelidikan dengan intens,” tegasnya.

Dengan demikian, anggapan bahwa kawasan Masalembo merupakan “Segitiga Bermuda Indonesia” dan menjadi penyebab tenggelamnya KM Virgo Transport 8 masih membutuhkan pembuktian. Investigasi menyeluruh diperlukan agar penyebab tragedi dapat diketahui berdasarkan data dan fakta, bukan sekadar asumsi yang berkembang di masyarakat.(eko)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini