Beranda Jawa Timur Dibayangi Pelemahan Rupiah, Pedagang Kediri Cemas Wacana Kenaikan Harga MinyaKita

Dibayangi Pelemahan Rupiah, Pedagang Kediri Cemas Wacana Kenaikan Harga MinyaKita

6

Kediri, (KUBUS.ID) – Kelangkaan dan lonjakan harga minyak goreng bersubsidi, MinyaKita, kian menjadi masalah nasional yang serius, tidak terkecuali di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya. Fenomena ini dipicu oleh merosotnya pasokan dari pihak distributor serta pemangkasan kuota Domestic Market Obligation (DMO). Kondisi ini diperparah oleh melemahnya nilai tukar rupiah, yang turut mengerek naik harga berbagai kebutuhan pokok lainnya di pasar domestik.

Kendati dihantam badai kelangkaan nasional, berdasarkan pantauan jurnalis Andika Media di Pasar Setono Betek, Kota Kediri, situasi sebetulnya masih terbilang aman. Minyak goreng bersubsidi tersebut tidak benar-benar gaib dari peredaran. Hanya saja, para pedagang di pasar tradisional ini harus gigit jari karena jumlah stok yang mereka terima merosot drastis dibandingkan bulan-bulan sebelumnya

Juju Zubaedah, salah seorang pedagang di Pasar Setono Betek, mengungkapkan bahwa seretnya pasokan dari Bulog ini sudah terjadi sejak mementum lebaran Idul Fitri lalu hingga saat ini. Penurunan kuota pengiriman tersebut dirasakan sangat memukul aktivitas dagangnya sehari-hari.

“Sejak setelah Lebaran Idul Fitri, jumlah MinyaKita yang kami terima dari Bulog berkurang drastis sampai sekarang. Sebelumnya, pedagang bisa mendapatkan sekitar 30 karton setiap minggunya, tapi sekarang hanya sekitar 13 karton saja,” keluh Juju.

Imbas dari penurunan pasokan ini, para pedagang mengaku sangat kesulitan untuk memenuhi tingginya permintaan masyarakat. Menghadapi situasi pelik ini, Juju bahkan harus memutar otak dan menerapkan cara sendiri agar stok yang hanya 13 karton tersebut tidak ludes dalam hitungan hari, sekaligus memastikan seluruh langganannya bisa mendapatkan minyak bersubsidi tersebut secara merata.

Di tengah jeritan perihal kelangkaan stok, masyarakat kini juga dihantui oleh wacana pemerintah yang berencana menaikkan harga eceran tertinggi MinyaKita akibat melonjaknya harga sawit di pasar global. Wacana ini sontak membuat para pedagang ketar-ketir, terlebih kondisi ekonomi saat ini juga sedang diuji oleh terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Sri, pedagang lain di Pasar Setono Betek, turut menyuarakan kekhawatiran yang sama mengenai rencana penyesuaian harga komoditas bersubsidi tersebut. Ia berharap pemerintah mengkaji ulang kebijakan itu karena daya beli masyarakat saat ini sedang berada di titik yang rendah.

“Mengenai wacana kenaikan harga MinyaKita, semoga tidak ada kenaikan. Dengan kondisi ekonomi masyarakat seperti ini saja pedagang sudah mengalami penurunan pendapatan, apalagi jika harga MinyaKita dinaikkan, pasti tidak terbayang bagaimana sulitnya ke depan nanti,” tutur Sri.

Kondisi ini tidak hanya menekan sisi penjual, tetapi juga mencekik leher para konsumen selaku pemakai akhir. Suryani, salah satu ibu rumah tangga yang sedang berbelanja, mengaku sangat pusing dan tertekan melihat situasi perekonomian yang kian tidak menentu akhir-akhir ini.

“Semua harga naik, sementara kebutuhan pokok harus tetap terpenuhi setiap hari. Uangnya makin tidak cukup. Harapannya, semoga segera ada kebijakan konkret dari pemerintah yang berpihak pada kondisi ekonomi masyarakat kecil saat ini,” pungkas Suryani.(sof)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini