Beranda Kediri Raya Harga Gabah Melonjak, Penggilingan Padi Hadapi Tekanan Harga Beras Premium

Harga Gabah Melonjak, Penggilingan Padi Hadapi Tekanan Harga Beras Premium

791

KEDIRI, KUBUS.ID – Kenaikan harga gabah yang terjadi di tengah berkurangnya musim panen memberikan tekanan terhadap pelaku usaha penggilingan padi. Kondisi tersebut membuat biaya produksi beras, khususnya beras premium, ikut meningkat hingga sulit mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Pemilik Penggilingan Padi Sumber Baru, Beny Setyawan, mengatakan harga gabah kering sawah saat ini telah mencapai sekitar Rp8.400 per kilogram. Angka tersebut jauh di atas harga acuan pemerintah yang berada di kisaran Rp6.500 per kilogram.

Menurut Beny, kenaikan harga gabah yang cukup signifikan berpengaruh langsung terhadap biaya produksi penggilingan. Dengan harga bahan baku yang tinggi, penggilingan padi menghadapi tantangan untuk menjual beras premium sesuai HET pemerintah.

“Banyak penggilingan padi yang tidak mampu menjual beras premium di bawah HET karena harga gabah saat ini sudah menyentuh Rp8.400 per kilogram untuk gabah kering sawah,” ujar Beny.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat harga pokok produksi beras premium berada di atas batas harga yang ditetapkan pemerintah. Penggilingan padi harus memperhitungkan biaya pembelian gabah, proses penggilingan hingga menghasilkan beras siap jual.

“Dengan harga gabah saat ini, harga pokok produksinya saja untuk beras premium sudah di atas HET pemerintah,” jelasnya.

Meski demikian, masyarakat masih memiliki alternatif untuk mendapatkan beras dengan harga yang lebih terjangkau. Pemerintah menyediakan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk kategori medium, sementara beras premium produksi Perum BULOG juga tersedia melalui sejumlah merek, di antaranya Punokawan dan BeFood.

Beny menyebut, beras dengan harga sesuai ketentuan pemerintah masih dapat ditemukan di sejumlah toko. Namun, sebagian pedagang masih berhati-hati dalam menjual beras karena khawatir harga jualnya melebihi HET.

“Masih ada di beberapa toko. Karena banyak pedagang yang takut menjual di atas HET,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga gabah tidak hanya berdampak pada petani maupun konsumen, tetapi juga memberikan tekanan terhadap mata rantai usaha penggilingan padi. Di satu sisi, penggilingan harus menyesuaikan diri dengan meningkatnya harga bahan baku, sementara di sisi lain tetap dituntut menjaga harga beras agar terjangkau masyarakat.

Keberadaan beras program pemerintah pun menjadi salah satu pilihan untuk menjaga akses masyarakat terhadap kebutuhan pangan pokok di tengah tingginya harga gabah dan meningkatnya biaya produksi beras.(atc)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini