Beranda Kediri Raya Kasus DBD Menurun Drastis di Kabupaten Blitar, Warga Diminta Jangan Lengah

Kasus DBD Menurun Drastis di Kabupaten Blitar, Warga Diminta Jangan Lengah

1453
Ilustrasi nyamuk aedes aegypti. (Sumber: Katadata)

BLITAR (KUBUS.ID) – Kasus DBD di Kabupaten Blitar mengalami penurunan signifikan sepanjang 2026. Hingga Juli 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar hanya mencatat 44 kasus demam berdarah dengue (DBD), jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai sekitar 500 kasus hingga akhir tahun.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Blitar, Anggit Ditya Putranto, mengatakan penurunan tersebut dipengaruhi beberapa faktor. Selain kondisi cuaca yang relatif lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya, peningkatan kesadaran masyarakat dalam melakukan pencegahan juga dinilai berkontribusi menekan penyebaran penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

“Kalau tahun kemarin angkanya sampai sekitar 500 kasus. Tahun ini sampai bulan ini yang terdiagnosis DBD masih 44 kasus. Artinya memang ada penurunan dari sisi jumlah kesakitan yang ditemukan,” kata Anggit Ditya Putranto.

Menurut Anggit, penurunan kasus DBD tahun ini bukan disebabkan siklus empat tahunan seperti anggapan sebagian masyarakat. Ia menjelaskan kondisi musim yang cenderung lebih kering membuat genangan air sebagai tempat berkembang biaknya nyamuk menjadi lebih sedikit.

“Tahun ini relatif lebih kering, sehingga tidak terlalu banyak genangan air akibat hujan. Jentik nyamuk pun tidak terlalu banyak. Kemungkinan itu salah satu faktornya,” ujarnya.

Selain faktor cuaca, Dinkes Kabupaten Blitar menilai meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan turut membantu menekan penyebaran DBD. Program pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M dan pemantauan jentik dinilai berjalan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kemungkinan masyarakat sekarang lebih aware. Pemantauan jentik lebih bagus dan gerakan 3M dilakukan secara lebih masif oleh masyarakat,” jelas Anggit.

Meski jumlah kasus menurun, Dinkes mencatat kelompok usia 15 hingga 44 tahun masih menjadi kelompok yang paling banyak terdiagnosis DBD, yakni sekitar 35 persen dari total kasus yang ditemukan sepanjang tahun ini.

Dinkes Kabupaten Blitar juga mengingatkan masyarakat agar tidak lengah menjelang datangnya musim hujan yang diperkirakan mulai Oktober. Sebab, potensi peningkatan kasus DBD tetap ada apabila pemberantasan sarang nyamuk tidak dilakukan secara konsisten.

“Kita berharap saat awal musim hujan tidak terjadi ledakan kasus. Meski angkanya turun, kami justru semakin intens melakukan pemantauan, baik di puskesmas maupun rumah sakit. Masyarakat juga jangan sampai lengah,” tegas Anggit.

Dinkes mengimbau masyarakat terus menerapkan langkah pencegahan melalui gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk, serta menjaga kebersihan lingkungan secara rutin. (nhd)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini