Beranda Nasional Mendikdasmen Tegaskan AI Tak Akan Gantikan Peran Guru dalam Pendidikan

Mendikdasmen Tegaskan AI Tak Akan Gantikan Peran Guru dalam Pendidikan

13
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti (Foto: Dok. Kemendikdasmen)

JAKARTA (KUBUS.ID) – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak akan menggantikan peran guru dalam dunia pendidikan. Menurutnya, AI hanya berfungsi sebagai teknologi pendukung yang memiliki keterbatasan dalam proses pembelajaran.

“AI tetap merupakan teknologi yang tidak bisa menyelesaikan segalanya atau menggantikan segalanya,” kata Abdul Mu’ti saat menjadi pembicara dalam seminar nasional bertajuk AI dan Peningkatan Mutu Pendidikan untuk Semua di Ballroom Gedung IKA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu (24/1), dikutip dari Antara, dilansir cnnindonesia.com.

Abdul Mu’ti mengakui AI memiliki kemampuan mengolah data dan menyajikan informasi dengan cepat. Namun, teknologi tersebut tidak memiliki pengalaman hidup, tanggung jawab moral, serta nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini melekat pada peran seorang guru.

Ia menjelaskan bahwa meskipun AI mampu memberikan saran dan penjelasan, teknologi tersebut tidak dapat merasakan maupun menjalani proses belajar seperti manusia.

“AI bisa memberi nasihat dan menjelaskan banyak hal, tetapi AI tidak bertindak dan tidak mengalami,” ujarnya.

Lebih lanjut, Abdul Mu’ti menekankan bahwa kendali penggunaan AI sepenuhnya berada di tangan manusia. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi harus disertai sikap kritis agar tidak terjebak pada informasi yang keliru atau tidak utuh.

“Kendalinya tetap berada pada manusia yang mengoperasikan alat tersebut,” kata Abdul Mu’ti.

Ia juga menyoroti pentingnya etika dalam pemanfaatan AI, khususnya di ruang digital. Menurutnya, AI bekerja berdasarkan data yang dimasukkan oleh pengguna, sehingga akurasi informasi yang dihasilkan sangat bergantung pada kualitas sumber data.

“Jika yang diunggah salah, maka AI juga akan menyajikan informasi yang salah,” ujarnya.

Terkait kebijakan pendidikan, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pembelajaran AI dan coding mulai diperkenalkan di tingkat sekolah dasar kelas V sebagai mata pelajaran pilihan. Kebijakan tersebut diterapkan secara bertahap dengan menyesuaikan kesiapan guru serta satuan pendidikan.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Guru tetap harus menjadi aktor utama dalam membimbing peserta didik, menanamkan nilai, dan membentuk karakter.

“Aset manusia dan dimensi kemanusiaan tidak boleh terlepas dalam konteks AI,” pungkasnya. (nhd)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini