NGANJUK, KUBUS.ID – Lantunan sholawat menggema di Desa Pisang, Kecamatan Patianrowo, Kabupaten Nganjuk, Rabu malam (2/9/2026). Sekitar 3.000 jamaah dari Nganjuk dan daerah sekitarnya menghadiri Moestopo Bersholawat 6, yang digelar Yayasan/Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Jakarta bersama MWC NU Patianrowo.
Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut menjadi momentum untuk memperingati Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW sekaligus mengenang jasa dan perjuangan Pahlawan Nasional Mayor Jenderal TNI Prof. Dr. Moestopo serta istrinya, Soepartin Moestopo, yang memiliki keterikatan kuat dengan Kabupaten Nganjuk.
Suasana semakin khidmat dengan lantunan sholawat dari Majelis Bolone Gus e yang dipimpin Gus Harist Al Hafidz, diiringi Grup Hadrah Mardhotillah. Selain bersholawat bersama, jamaah juga mengikuti tausiyah dan mauidzoh hasanah yang disampaikan sejumlah tokoh agama, di antaranya Ustaz Imam Khudhori, Gus Jamal Siliwangi, Drs. KH. Muhtarom F., M. Wildan Fatawi, SE, serta K. Muhammad Isro’.
Ketua Pengurus Yayasan Universitas Prof. Dr. Moestopo, Dr. RM. H. Hermanto, J.m, S.Kg., drg., M.M., mengatakan Moestopo Bersholawat merupakan bagian dari rangkaian kegiatan haul Prof. Dr. Moestopo dan Soepartin Moestopo yang dilaksanakan secara rutin.
“Kegiatan ini sebenarnya rutin kami lakukan. Mulai pagi tadi dari rangkaian di Taman Ngadiluwih atau Kawedanan Ngadiluwih Kabupaten Kediri yang merupakan tempat kelahiran Eyang Moestopo, kemudian dilanjutkan nyekar di Makam Keluarga Stono Gedong Kota Kediri,” ujarnya.
Rangkaian tersebut kemudian berlanjut dengan ziarah ke Makam Patianrowo. Setelah itu, pada sore hari dilaksanakan kirim doa dan tahlil di kediaman Soepartin Moestopo di Desa Kudu, Kecamatan Patianrowo.
Hermanto menegaskan, Moestopo Bersholawat menjadi penutup rangkaian kegiatan tersebut sekaligus sarana untuk meneruskan nilai perjuangan dan pengabdian yang diwariskan Prof. Dr. Moestopo dan Soepartin Moestopo.
“Besar harapan kami agar kegiatan seperti ini rutin kami laksanakan sebagai wujud bakti kami kepada leluhur sekaligus meneruskan cita-cita Eyang Moestopo dan Soepartin Moestopo agar bisa lebih bermanfaat, khususnya untuk masyarakat Nganjuk dan Kediri,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan Moestopo Bersholawat 6.
Menurutnya, kegiatan tahunan tersebut tidak hanya menjadi sarana syiar keagamaan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat semangat kebangsaan dan mengenalkan keteladanan Prof. Dr. Moestopo kepada generasi muda.
Prof. Dr. Moestopo sendiri dikenal sebagai sosok yang memiliki kiprah luas di bidang militer, pendidikan, kedokteran gigi, hingga kemanusiaan. Ia lahir pada 13 Juni 1913 dan memiliki keterikatan dengan wilayah Kudu, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk.
Namanya semakin dikenal dalam sejarah perjuangan bangsa melalui perannya dalam Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945. Selain perjuangan di bidang militer, Moestopo juga memberikan perhatian besar terhadap dunia pendidikan hingga mendirikan lembaga pendidikan yang kemudian berkembang menjadi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) di Jakarta.
Atas jasa dan pengabdiannya, Prof. Dr. Moestopo dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2007 melalui Keputusan Presiden Nomor 66/TK/Tahun 2007.
Melalui Moestopo Bersholawat 6, nilai perjuangan tersebut kembali dihidupkan dalam suasana religius. Sholawat, doa, dan penghormatan terhadap jasa pahlawan dipadukan menjadi satu kegiatan yang diharapkan mampu memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus menumbuhkan semangat kebangsaan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keteladanan Prof. Dr. Moestopo dan Soepartin Moestopo tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya melalui kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan, dan kemasyarakatan.(atc/art)






























