Beranda Nasional Pelemahan Rupiah Berpotensi Tekan Sektor Farmasi, Dampak pada Harga Obat Diperkirakan Mulai...

Pelemahan Rupiah Berpotensi Tekan Sektor Farmasi, Dampak pada Harga Obat Diperkirakan Mulai Terasa Akhir Tahun

6
Prof. Dr. dr. Sentot Imam Suprapto, Rektor Universitas Strada Indonesia. (dok. Pribadi)

Kediri (KUBUS.ID) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi memberikan tekanan pada sektor farmasi nasional yang hingga kini masih bergantung pada impor bahan baku obat. Namun, dampaknya terhadap ketersediaan dan harga obat diperkirakan belum terlalu terasa pada semester pertama tahun ini.

Rektor Universitas Strada Indonesia, Prof. Dr. dr. Sentot Imam Suprapto, MM., menjelaskan sebagian besar fasilitas kesehatan telah melakukan pengadaan obat sejak akhir tahun sebelumnya untuk kebutuhan enam bulan pertama. Kondisi tersebut membuat pelayanan kesehatan masih dapat berjalan relatif stabil meski nilai tukar rupiah mengalami pelemahan.

“Untuk semester pertama ini mungkin tidak begitu berpengaruh banyak. Karena stok obat biasanya 6 bulan pertama itu sudah kita penuhi di fasilitas pengadaan oleh fasilitas faskes,” ujarnya dalam wawancara dengan Radio Andika.

Menurut Sentot, kewaspadaan perlu ditingkatkan memasuki semester kedua, terutama ketika stok hasil pengadaan sebelumnya mulai menipis. Ia menilai kondisi tersebut berpotensi memengaruhi harga obat karena transaksi impor masih menggunakan dolar AS.

“Nah, itu mungkin yang membuat Indonesia tidak terlalu goncang dalam hal harga obat, sehingga pelayanan tetap bisa berlangsung. Cuman untuk 6 bulan semester kedua berikutnya kita harus hati-hati, karena bagaimanapun juga dolar saat ini sudah mencapai sekitar Rp18.000,” katanya.

Ia menambahkan, kelompok obat yang paling rentan terdampak fluktuasi nilai tukar adalah obat-obatan non-generik atau obat paten. Berbeda dengan obat generik yang memiliki harga relatif lebih stabil, harga obat paten sangat bergantung pada kebijakan produsen dan kondisi pasar global.

“Obat yang paling rentan terhadap perubahan dolar ini ada obat non-generik. Karena obat-obat generik kan standar, jadi secara internasional harganya tidak begitu berubah jauh. Tapi obat-obat paten itu kan sangat tergantung dari harga dolar,” ujarnya.

Terkait pasien dengan penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes, Sentot menilai pelayanan tetap harus mengutamakan pemberian obat esensial. Namun, penggunaan suplemen pendukung seperti vitamin dan antioksidan dapat dipertimbangkan secara lebih bijak, termasuk melalui pemanfaatan obat herbal sebagai pelengkap.

“Obat-obat esensial tetap diberikan, tapi memanajemen seperti vitamin, kemudian antioksidan, itu ya mungkin secara bijak itu bisa dicukupi atau dikomplementer dengan obat-obat herbal,” katanya.

Lebih lanjut, Sentot menegaskan Indonesia masih belum bisa sepenuhnya lepas dari ketergantungan impor bahan baku obat. Pasalnya, sebagian besar bahan baku farmasi masih didatangkan dari negara lain seperti India, China, Thailand, hingga Amerika Serikat.

Meski demikian, ia meminta masyarakat tidak terlalu pesimistis karena stok obat nasional saat ini masih relatif aman. Tantangan yang perlu diantisipasi, menurutnya, kemungkinan muncul pada September hingga November ketika persediaan hasil pengadaan sebelumnya mulai berkurang.

“Saya kira kita tidak usah terlalu pesimis. Karena bagaimanapun juga, untuk stok barang beberapa itu masih bisa kita cukupi secara nasional. Karena yang kita harus hati-hati nanti di bulan 9, 10, 11,” ujarnya.

Sebagai upaya jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan impor, Sentot menilai Indonesia dapat belajar dari India yang dinilainya berhasil membangun industri farmasi yang lebih mandiri dan kuat dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun pasar global. (nhd)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini