Beranda Uncategorized Pelemahan Rupiah Tekan Industri Farmasi, BPOM Kediri Pastikan Mutu dan Keamanan Obat...

Pelemahan Rupiah Tekan Industri Farmasi, BPOM Kediri Pastikan Mutu dan Keamanan Obat Tetap Terjaga

5

Kediri, (KUBUS.ID) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut menimbulkan kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan kenaikan harga obat serta penurunan mutu produk farmasi akibat meningkatnya biaya produksi dan distribusi.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BPOM Kediri, Winanto, S.Si., Apt., M.Si., menjelaskan bahwa tekanan ekonomi memang dirasakan oleh pelaku usaha, terutama industri yang masih bergantung pada bahan baku impor, termasuk sektor farmasi dan kesehatan.

Menurut Winanto, melemahnya rupiah menyebabkan biaya produksi meningkat karena sebagian bahan baku industri masih didatangkan dari luar negeri. Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi tantangan melemahnya daya beli masyarakat sehingga berada dalam posisi yang cukup sulit.

“Jika harga produk dinaikkan, daya serap pasar bisa menurun. Namun jika harga tidak disesuaikan, margin keuntungan perusahaan akan semakin tertekan,” ujarnya saat wawancara di Radio Andika.

Meski demikian, Winanto menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap mutu dan keamanan obat yang beredar. Produk obat yang dipasarkan tetap harus memenuhi standar mutu, keamanan, dan khasiat yang telah ditetapkan regulator. Industri farmasi juga tetap wajib menerapkan standar produksi yang ketat meskipun menghadapi tekanan biaya operasional.

Ia menjelaskan, tantangan terbesar saat ini adalah menjaga keseimbangan antara biaya produksi, ketersediaan bahan baku, dan harga jual agar pasokan obat tetap tersedia bagi masyarakat.

Selain sektor farmasi, tekanan juga dirasakan oleh industri makanan, minuman, kemasan, dan sektor manufaktur lain yang menggunakan bahan baku impor. Kondisi ekonomi yang lesu membuat masyarakat lebih selektif dalam berbelanja, sehingga sejumlah sektor usaha mengalami penurunan permintaan.

Untuk membantu dunia usaha bertahan, Winanto berharap pemerintah terus menghadirkan berbagai stimulus dan kebijakan yang mendukung iklim usaha, seperti kemudahan perizinan, insentif bagi sektor terdampak, serta menjaga stabilitas harga bahan pokok dan energi.

“Kita harus bersinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat agar bisa melewati situasi ekonomi yang penuh tantangan ini bersama-sama,” kata Winanto.

Ia menambahkan, efisiensi operasional, pengelolaan arus kas yang baik, serta inovasi dalam menjalankan usaha menjadi langkah penting yang harus dilakukan pelaku usaha untuk menghadapi dampak pelemahan rupiah dan perlambatan ekonomi saat ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini