BANDUNG, KUBUS.ID — Dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (AS) kian meluas. Tidak hanya memukul pelaku usaha makro, badai depresiasi ini mulai mencekik para produsen skala menengah di daerah.
Salah satunya dirasakan oleh Mas Ikbal, seorang pengusaha kaos kaki asal Kota Bandung. Ia mengaku mulai kelimpungan menghadapi lonjakan harga bahan baku benang. Meski dibeli dari pabrikan lokal di Jawa Barat, transaksi bahan baku tersebut rupanya wajib menggunakan valuta asing (Dollar AS), bukan mata uang lokal.
Akibat ketergantungan pada dollar ini, biaya pembelian bahan baku dan operasional melonjak tajam antara 20 hingga 40 persen dalam dua bulan terakhir. Arus kas (cashflow) usaha yang biasanya aman kini terpaksa direkalkulasi total agar tidak gulung tikar.
“Biasanya cashflow kita aman-aman saja, tapi sekarang harus hitung ulang semuanya biar enggak semakin boncos. Kenaikan biaya operasional dan bahan baku ini kerasa banget, naik sekitar 20 sampai 40 persen sejak rupiah terpuruk dua bulan lalu,” ujar Mas Ikbal.
Berkaca pada pengalaman sebelumnya, Ikbal menyebut perputaran uang di pasar dulunya jauh lebih kondusif karena daya beli masyarakat ditopang oleh bantuan tunai yang langsung dibelanjakan ke pasar. Namun, peralihan ke bantuan non-tunai saat ini dinilai kurang memberikan dampak signifikan bagi pedagang dan produsen luas.
Begitu pula dengan program baru seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, program tersebut cenderung eksklusif dan hanya menguntungkan segelintir kelompok, tanpa menyentuh ekosistem pelaku pasar secara makro.
“Harapan saya, pemerintah jangan cuma selalu membanggakan program-program (seperti MBG) itu saja. Yang paling kami butuhkan saat ini adalah upaya nyata untuk stabilisasi ekonomi nasional. Harus ada sinergi biar rupiah lepas dari keterpurukan dan harga bahan baku industri bisa normal lagi,” tegas Ikbal.
Pelaku usaha berharap ada langkah konkret dari pembuat kebijakan untuk mengintervensi stabilitas nilai tukar agar sektor industri kreatif dan manufaktur menengah di tanah air bisa kembali bernapas lega.(eko)




























