JAWA TIMUR, (KUBUS.ID) – Karakteristik geologi wilayah Jawa Timur menyimpan potensi kegempaan yang bervariasi dan membutuhkan tingkat kewaspadaan yang berbeda di setiap daerahnya. Stasiun Geofisika Nganjuk mengimbau masyarakat untuk memahami peta kerentanan bencana ini guna meningkatkan kesiapsiagaan serta mitigasi struktural.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika Madya Stasiun Geofisika Nganjuk, Solahuddin Nurfalah, menjelaskan bahwa secara umum aktivitas gempa di wilayah Jawa Timur terbagi ke dalam tiga zona utama: Megathrust di bagian selatan, sesar aktif di daratan, serta sesar tunjaman di laut utara Jawa.
Solahuddin menyoroti wilayah selatan Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan zona subduksi. Area ini memiliki daya rusak yang patut diwaspadai karena terhubung dengan alur tektonik besar kawasan barat Indonesia.
“Gempa di wilayah Jawa Timur itu kita bagi dalam beberapa ini… jadi ada gempa Megathrust yang ada di selatan Jawa Timur. Jadi hati-hati untuk daerah-daerah di selatan Jawa Timur itu tersambung dengan zona Megathrust subduksi antara Indo-Australia dengan Eurasia yang itu nyambung dengan yang ada di Aceh. Jadi kemungkinan tingkat kerusakan, tingkat besarnya magnitudo itu bisa sama atau kurang dari gempa bumi tsunami yang di Aceh,“ terang Solahuddin.
Selain ancaman Megathrust di selatan, terdapat pula potensi bencana dari daratan akibat pergerakan sesar-sesar lokal aktif. Meskipun magnitudonya cenderung tidak sebesar Megathrust, gempa lokal ini tetap berpotensi destruktif.
“Untuk yang di darat itu ada beberapa zona-zona aktif yang kita harus waspadai, biasanya bisa menyebabkan gempa-gempa lokal. Nah gempa lokal ini tidak lebih besar dari Megathrust, tetapi dia tetap bisa merusak apabila kita berada di dekat pusat gempanya,” tambahnya.
Sementara di wilayah perairan utara Jawa, terdapat pula sesar tunjaman di bawah laut yang beberapa kali memicu aktivitas tektonik cukup kuat, seperti fenomena yang pernah terjadi di kawasan Pulau Bawean dan Selat Madura.
“Ada lagi gempa tunjaman yang ada di utara Jawa, seperti yang kemarin terjadi di Bawean, terjadi di dekat Selat Madura… Itu juga cukup merusak, tetapi tidak lebih merusak dari yang ada di selatan Pulau Jawa,” jelasnya.
Menjelaskan fenomena gempa kecil yang terjadi hampir setiap hari, Solahuddin menyebutnya sebagai akumulasi dari pergerakan lempeng tektonik yang terus berjalan secara alami.
“Setiap lempeng-lempeng bumi itu berjalan… mungkin sekitar 2 sampai 7 sentimeter per tahun. Karena proses pergerakannya sangat kecil, dalam sehari berarti cuma berapa milimeter per hari… tetapi ini kan memicu tekanan-tekanan, stres-stres di beberapa tempat,” paparnya.
Mengingat gempa bumi belum bisa diprediksi secara pasti tanggal, jam, maupun lokasinya, langkah mitigasi yang paling efektif adalah penyesuaian infrastruktur dan tempat tinggal, terutama di wilayah yang memiliki histori kegempaan.
“Akan ada fenomena gempa bumi berulang di tempat tersebut… di titik yang sama atau di sekitar titik itu. Kalau memang harus membangun, berarti dengan konstruksi yang tahan gempa. Sekali lagi kita ingatkan bahwa gempa itu tidak bisa diprakirakan… yang bisa kita lakukan adalah bersiap atau mitigasi akan terjadinya gempa bumi tersebut,” tutup Solahuddin. (ayu)































