Beranda Kediri Raya Dinkes Kota Kediri Temukan 130 Kasus HIV/AIDS, Usia Produktif Mendominasi

Dinkes Kota Kediri Temukan 130 Kasus HIV/AIDS, Usia Produktif Mendominasi

1039

KUBUS, (KUBUS.ID) – Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus mengintensifkan upaya deteksi dini guna menekan laju penyebaran Human Immunodeficiency Virus and Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). Langkah ini dilakukan secara masif melalui berbagai program pencegahan, penyuluhan, hingga penyediaan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Kediri, tercatat sebanyak 130 orang terjangkit HIV/AIDS sepanjang periode Januari hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 33 orang merupakan warga ber-KTP Kota Kediri, sementara sisanya berasal dari luar daerah. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kediri, Hendik Supriyanto, mengungkapkan bahwa kelompok usia produktif menjadi yang paling mendominasi temuan kasus ini.

“Yang terjangkit paling banyak usia produktif antara 20-29 tahun,” ujar Hendik saat memberikan keterangan terkait perkembangan kasus tersebut.

Ia juga memaparkan bahwa kelompok populasi kunci yang menjadi perhatian khusus Dinkes meliputi Pekerja Seks Komersial (PSK), Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL), Waria, serta pelanggan seks. Dari hasil pemeriksaan menyeluruh yang telah dilakukan, komunitas LSL menyumbang angka positif tertinggi.

“Dari total 1.176 yang di-test, 54 positif,” jelas Hendik merinci data temuan di lapangan.

Kendati angka temuan tergolong tinggi, Hendik memandang hal tersebut dari sudut pandang positif bagi efektivitas program kesehatan. Menurutnya, semakin banyak kasus yang berhasil ditemukan, maka semakin baik pula langkah penanganan yang bisa diambil.

“Dari segi program, semakin banyak ditemukan semakin baik. Dinkes prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati,” tegasnya.

Sebagai langkah preventif, Dinkes Kota Kediri tidak hanya mengandalkan fasilitas kesehatan tetapi juga menyasar dunia pendidikan. Sosialisasi dan pendidikan seksual mulai diperkenalkan kepada pelajar sejak tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), termasuk momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Selain itu, koordinasi aktif terus dijalankan bersama puskesmas, kader kelurahan, serta pengoperasian Mobile VCT guna menjangkau masyarakat lebih luas agar deteksi dan penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Bagi masyarakat yang terdiagnosis positif, pemerintah memastikan ketersediaan akses pengobatan secara cuma-cuma tanpa dipungut biaya.

“Pengobatan ODHA gratis di seluruh pelayanan kesehatan publik dan berlaku seumur hidup,” ungkap Hendik.

Menutup keterangannya, ia mengimbau masyarakat untuk menghindari perilaku berisiko tinggi dan senantiasa menjaga kesehatan reproduksi.

“Masyarakat diimbau berperilaku seksual yang sehat dan setia pada pasangan. Sedangkan untuk ODHA untuk terus mematuhi prosedur yang diberlakukan, agar tetap dalam kondisi sehat dan dapat melakukan aktivitas normal seperti biasanya,” pungkasnya.(sof/stm)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini