TRENGGALEK, KUBUS.ID — Kondisi siswa dan guru yang mengalami gejala gangguan kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Trenggalek mulai membaik. Saat ini tidak ada lagi pasien yang menjalani rawat inap setelah satu orang yang sebelumnya dirawat di rumah sakit telah diperbolehkan pulang.
Wakil Satgas MBG Kabupaten Trenggalek, Sunarto, mengatakan sebagian besar warga sekolah yang mengalami gejala hanya mendapat penanganan di UKS, fasilitas kesehatan, atau menjalani perawatan mandiri di rumah.
“Alhamdulillah hari ini tidak ada yang dirawat di rumah sakit. Kemarin memang ada satu yang rawat di rumah sakit, kemarin sudah dipulangkan. Kondisinya sudah membaik,” kata Sunarto.
Sunarto menjelaskan, salah satu lokasi yang terdampak adalah SD Integral Luqman Al Hakim. Di sekolah tersebut tercatat 26 orang mengalami gejala, terdiri dari 20 siswa dan enam guru atau tenaga pendidik. Sekolah tersebut menerima makanan dari SPPG Trenggalek Tamanan, yang juga melayani SMPN 1 Trenggalek.
Namun, Sunarto menegaskan penyebab munculnya gejala tersebut belum dapat dipastikan berasal dari makanan MBG. Pemeriksaan sampel makanan masih dilakukan dan sampelnya telah dikirim ke BBLKK Surabaya untuk diperiksa.
“Jadi langkahnya kita masih proses pemeriksaan sampel makanan. Ini belum jadi, masih dikirim ke BBLKK Surabaya,” ujarnya.
SPPG Trenggalek Tamanan saat ini mendapat sanksi suspensi dari Badan Gizi Nasional (BGN). SPPG tersebut melayani 2.085 penerima manfaat yang terdiri dari tiga TK/PAUD, enam SD, satu SMP, serta Posyandu di Kelurahan Tamanan.
Menurut Sunarto, gejala kesehatan juga ditemukan di sejumlah lokasi penerima manfaat lainnya. Namun, jumlahnya bervariasi dan tidak semua penerima manfaat mengalami gejala. Dari penelusuran sementara, keluhan paling banyak berkaitan dengan menu ayam dan sambal kacang.
“Kalau dari beberapa lokasi penerima manfaat itu kelihatannya dari sambal kacangnya atau ayamnya. Mereka lebih komplain di situ,” katanya.
Meski demikian, Satgas MBG masih mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan penerima manfaat, termasuk daya tahan tubuh dan kemungkinan intoleransi terhadap makanan. Karena itu, kesimpulan mengenai penyebab kejadian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek juga melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG, termasuk pembinaan SPPG dan penjamah makanan serta pemeriksaan alur pengolahan makanan. Seluruh sekolah penerima manfaat yang terdampak telah disisir untuk memastikan tidak ada kasus yang terlewat.
Sunarto juga mengingatkan agar makanan MBG dikonsumsi di sekolah dan tidak dibawa pulang. Menurutnya, makanan memiliki batas waktu konsumsi dan risiko keamanan pangan dapat meningkat jika makanan dibawa pulang atau terlalu lama berada di luar pengawasan.
“Semua harus dimakan di tempat. Termasuk TK, PAUD, dan lain sebagainya. Karena ketika dibawa pulang itu akan sangat berisiko,” tegasnya.
Sekolah yang siswanya mengalami gejala juga diminta tetap memantau kondisi kesehatan masing-masing anak. Tim kesehatan Satgas MBG disebut siap melakukan kunjungan atau memberikan penanganan apabila kembali ditemukan keluhan.
Sementara itu, hasil pemeriksaan sampel makanan masih ditunggu untuk mengetahui penyebab pasti munculnya gejala pada penerima manfaat MBG di sejumlah sekolah di Trenggalek. (nhd)






























