Beranda Jawa Timur Bom Waktu Emosi di Balik Tragedi Madiun: Mengapa Orang Tenang Bisa Berbuat...

Bom Waktu Emosi di Balik Tragedi Madiun: Mengapa Orang Tenang Bisa Berbuat Diluar Nalar?

6780
Pelaku pembunuhan istri siri dan anak di Madiun, diamankan Polisi. (Foto : istimewa)

KEDIRI, KUBUS.ID-Kasus penganiayaan tragis yang merenggut nyawa seorang ibu dan anak balitanya di Madiun tengah menjadi sorotan publik. Peristiwa ini memicu pertanyaan mendalam mengenai sisi psikologis manusia: benarkah seseorang yang berada di bawah tekanan ekstrem bisa nekat menghilangkan sumber masalah tanpa berpikir jernih?

Psikolog asal Kediri, Vivi Rosdiana, S.Psi, memberikan pandangannya terkait kasus tersebut. Menurutnya, karakter fisik atau penampilan luar seseorang tidak pernah bisa menjadi tolok ukur tunggal untuk menilai potensi bahaya atau tingkat kesadisan seseorang.

“Seseorang yang tenang dan tidak terlihat arogan bukan menjadi bagian penilaian sesaat bahwa perilakunya tidak sadis. Sebaliknya, seseorang yang cenderung kasar dan menakutkan tidak selamanya tindakannya bisa mencederai orang lain,” ujar Vivi.

Lebih lanjut, Vivi menjelaskan bahwa tragedi semacam ini sering kali berakar dari akumulasi persoalan dan emosi yang gagal dikelola dengan baik selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Tekanan hidup yang terus dipendam ini lambat laun berubah menjadi “bom waktu” yang mengancam keselamatan jiwa.

Ironisnya, dalam banyak kasus serupa, pelaku justru dikenal sebagai sosok yang santun dan sangat humble (rendah hati) di mata keluarga maupun lingkungan sosialnya.

“Persoalan yang terpendam membuat seseorang bisa saja nekat untuk menghilangkan sumber persoalan hidupnya tanpa berpikir sehat. Pemikiran dan tindakan di luar nalar yang muncul inilah kemudian berujung pada tindakan keji dan tak manusiawi,” tambahnya.

Meski tekanan mental dan emosi yang menumpuk sering kali tidak tampak dari luar, Vivi menekankan pentingnya keterbukaan sebagai langkah preventif. Berbagi masalah dengan rekan sejawat, keluarga, atau pasangan sangat krusial agar seseorang mendapatkan sudut pandang dan masukan yang sehat.

Jangan biarkan persoalan dan tumpukan emosi berjalan tanpa kendali, karena langkah kecil untuk terbuka dapat mencegah lahirnya tindakan di luar nalar yang berakibat fatal bagi diri sendiri maupun orang lain.(eko/art)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini