Beranda Kediri Raya Sumpah Pemuda 2026, Dosen UIN Tulungagung Soroti Tantangan Generasi Muda

Sumpah Pemuda 2026, Dosen UIN Tulungagung Soroti Tantangan Generasi Muda

5074

TULUNGAGUNG, (KUBUS.ID) – Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026 menjadi kesempatan untuk mengevaluasi peran generasi muda dalam menjaga persatuan, memperkuat nasionalisme, dan berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi. Tantangan ekonomi dan terbatasnya ruang keterlibatan publik menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Dosen Ilmu Politik UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Dr. Yudi Krisno Wicaksono, M.IP., menilai semangat Sumpah Pemuda masih relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Menurutnya, demokrasi tidak hanya bergantung pada partisipasi politik masyarakat, tetapi juga pada kemampuan negara mengelola perbedaan dan potensi konflik di tengah keberagaman.

Ia menjelaskan, tekanan biaya hidup, persoalan daya beli, serta pendapatan yang belum meningkat secara signifikan menjadi tantangan bagi generasi muda. Kondisi tersebut dapat membuat anak muda lebih berfokus memenuhi kebutuhan pribadi daripada terlibat dalam persoalan sosial dan kebangsaan.

“Perlunya sebuah dorongan dari komunitas-komunitas yang didukung oleh pemerintah. Ruang-ruang lintas ide, seperti ruang kreativitas pemuda, perlu diakomodasi,” kata Yudi.

Menurutnya, kolaborasi antarpemuda perlu diperkuat agar mereka tidak terjebak dalam kehidupan individualistis. Pemerintah dapat memanfaatkan program yang sudah berjalan sebagai ruang keterlibatan generasi muda, tanpa harus selalu membentuk program baru yang membutuhkan anggaran tambahan.

Keterlibatan tersebut dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan sosial, pengembangan komunitas, hingga partisipasi dalam program pemerintah. Selain memperkuat hubungan antarpemuda, langkah ini diharapkan dapat mendorong tumbuhnya nasionalisme dan meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap kebijakan publik.

Yudi juga menekankan pentingnya memberikan ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan aspirasi. Menurutnya, kebijakan publik perlu mempertimbangkan masukan masyarakat dari tingkat akar rumput agar kebutuhan dan gagasan pemuda tidak berhenti sebagai aspirasi semata.

“Harapannya, ketika pemuda sudah bersuara dan aspirasinya diakomodasi oleh pemerintah atau pemangku kebijakan, mereka bisa bersatu untuk menyukseskan program yang dijalankan,” ujarnya.

Dalam kehidupan demokrasi, Yudi menilai kritik terhadap pemerintah tetap menjadi bagian penting. Generasi muda memiliki hak menyampaikan pendapat dan mengekspresikan pandangan, dengan tetap memperhatikan ketentuan hukum yang berlaku.

Ia menegaskan, semangat persatuan tidak berarti menghilangkan perbedaan pendapat. Sebaliknya, persatuan perlu dibangun melalui keterbukaan terhadap aspirasi, kolaborasi, dan kesediaan menjaga kepentingan bersama.

Peringatan Sumpah Pemuda 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum untuk memperluas keterlibatan generasi muda dalam kehidupan sosial, politik, dan pembangunan bangsa. (stm)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini