KUBUS.ID – Penguatan dolar AS terhadap rupiah tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga berpotensi mempengaruhi kondisi sosial masyarakat. Hal itu disampaikan Dr. Taufik Alamin, Dosen Sosiologi UIN Syekh Wasil Kediri.
Menurut Taufik, pelemahan rupiah dapat menekan dunia usaha karena biaya produksi dan operasional meningkat. Kondisi tersebut berisiko mengganggu keberlangsungan usaha dan berdampak pada tenaga kerja.
“Ketika pengeluaran lebih besar daripada pemasukan, pengusaha akan kesulitan mempertahankan tenaga kerja. Jika kondisi ini terus berlanjut, dampaknya tidak hanya ekonomi, tetapi juga sosial,” ujarnya.
Taufik menjelaskan, kehilangan pekerjaan dapat menimbulkan ketidakpastian dalam kehidupan masyarakat. Situasi itu membuat masyarakat lebih mudah bereaksi terhadap berbagai isu yang berkembang di lingkungan sekitar maupun media sosial.
“Masyarakat membutuhkan kepastian untuk menjalani hidup. Ketika kondisi ekonomi tidak menentu, masyarakat menjadi lebih mudah reaksioner terhadap berbagai informasi,” katanya.
Meski demikian, Taufik menilai masyarakat Indonesia memiliki kemampuan adaptasi yang kuat saat menghadapi krisis. Dukungan keluarga, lingkungan sosial, dan sektor informal masih menjadi penopang utama ketika kondisi ekonomi memburuk.
“Masyarakat kita sangat adaptif dan guyub. Saat menghadapi kesulitan, mereka akan mencari dukungan dari keluarga, kelompok sosial, atau mencoba sumber penghasilan lain untuk bertahan,” jelasnya.
Namun, menurut Taufik, kemampuan beradaptasi tersebut tidak bisa menjadi solusi jangka panjang. Karena itu, pemerintah perlu menghadirkan kepastian melalui kebijakan yang tepat untuk menjaga optimisme masyarakat dan pelaku usaha.
“Yang dibutuhkan saat ini adalah kepastian. Masyarakat mampu beradaptasi, tetapi tetap memerlukan arah dan kebijakan yang jelas dari pemerintah,” pungkasnya. (stm)































