KUBUS.ID – Aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia yang terjadi hampir bersamaan memunculkan pertanyaan di masyarakat mengenai kemungkinan adanya hubungan antara satu gunung dengan gunung lainnya. Fenomena tersebut dinilai perlu dipahami berdasarkan karakteristik masing-masing gunung api.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika sekaligus Forecaster Stasiun Geofisika BMKG Nganjuk, Setiyaris, mengatakan setiap gunung api memiliki sistem magma, tekanan, karakteristik, serta sejarah aktivitas yang berbeda. Karena itu, erupsi yang terjadi dalam waktu berdekatan tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan langsung.
“Setiap gunung api itu mempunyai sistem magma, kemudian tekanan, karakteristik, dan sejarah aktivitasnya masing-masing,” kata Setiyaris.
Menurutnya, Indonesia berada di kawasan Pacific Ring of Fire sehingga memiliki aktivitas kegempaan dan gunung api yang relatif tinggi. Kondisi tersebut membuat beberapa gunung api dapat memasuki fase aktif dalam waktu yang berdekatan.
Setiyaris menjelaskan, gempa bumi tertentu memang dapat memengaruhi aktivitas gunung api. Gempa yang kuat dan terjadi cukup dekat dengan gunung api, dalam kondisi tertentu, dapat mengubah tekanan atau tegangan di sekitar sistem magma. Namun, tidak semua gempa dapat memicu erupsi.
“Gunung api tersebut pada dasarnya harus sudah berada dalam kondisi yang memang memungkinkan untuk mengalami erupsi. Jadi, gempa itu bukan penyebab utamanya,” ujarnya.
Ia juga menepis anggapan bahwa erupsi satu gunung api secara otomatis memicu gunung api lain yang berada jauh darinya. Hingga saat ini, menurutnya, belum ada data konkret yang menunjukkan hubungan sebab-akibat seperti itu.
Setiyaris mengatakan erupsi yang waktunya berdekatan dapat terjadi karena masing-masing gunung memiliki siklus aktivitas yang berbeda. Dalam kondisi tertentu, siklus tersebut dapat beririsan sehingga beberapa gunung memasuki fase aktif pada waktu yang hampir bersamaan.
“Semua memiliki siklusnya masing-masing dan suatu saat erupsinya bisa terjadi bersama-sama. Saat ini timing-nya kebetulan beririsan,” jelasnya.
Menurut Setiyaris, pemantauan aktivitas gunung api tetap penting untuk mengetahui perubahan kondisi dan tanda-tanda peningkatan aktivitas. Masyarakat memang tidak dapat mengetahui secara pasti kapan sebuah gunung akan erupsi, tetapi tanda-tanda peningkatan aktivitas dapat dipantau melalui data kegempaan, suhu kawah, dan parameter lainnya.
Ia mengimbau masyarakat tidak langsung menghubungkan setiap fenomena geologi yang terjadi bersamaan sebagai rangkaian sebab-akibat. Masyarakat diminta tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari PVMBG terkait aktivitas gunung api serta BMKG untuk perkembangan aktivitas kegempaan. (stm)































