
TULUNGAGUNG, (KUBUS.ID) – Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung mencatat sebanyak 683 kasus tuberkulosis (TBC) berhasil ditemukan hingga Juni 2026. Jumlah tersebut baru mencapai sekitar 24 persen dari estimasi target temuan kasus selama satu tahun, sementara cakupan penemuan kasus terduga TBC mencapai 43 persen dari target.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, dr. Aris Setiawan, M.Kes., mengatakan target tersebut bukan berarti pemerintah mengharapkan semakin banyak warga terjangkit TBC, melainkan agar seluruh penderita dapat ditemukan lebih dini dan segera mendapatkan pengobatan sehingga tidak terus menularkan penyakit.
“Target ini bukan berarti mengharapkan kasus TBC bertambah, tetapi supaya tidak ada penderita TBC di masyarakat yang luput dari penanganan,” ujar dr. Aris saat On Air di Radio ANDIKA.
Dari total 683 kasus yang ditemukan, sebanyak 673 kasus merupakan TBC sensitif obat, sedangkan 10 kasus lainnya merupakan TBC resisten obat. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian TBC adalah lamanya pengobatan yang berlangsung sekitar enam bulan. Pasien harus mengonsumsi obat setiap hari secara teratur, meski terkadang muncul efek samping seperti mual, nyeri perut, pusing, hingga ruam.
“Pengobatan TBC tidak boleh terputus. Jika muncul efek samping, segera laporkan kepada petugas kesehatan karena selalu ada solusi agar pengobatan tetap bisa dilanjutkan sampai tuntas,” jelasnya.
Selain kepatuhan minum obat, stigma di masyarakat juga masih menjadi kendala. Tidak sedikit penderita yang enggan memeriksakan diri atau menjalani pengobatan karena khawatir dijauhi lingkungan. Dinas Kesehatan terus melakukan edukasi kepada keluarga, sekolah, dan masyarakat agar penderita tetap mendapat dukungan selama menjalani terapi.
dr. Aris menegaskan musim kemarau tidak secara langsung meningkatkan kasus TBC. Namun, batuk akibat ISPA pada musim kemarau perlu diwaspadai. Apabila batuk berlangsung terus-menerus disertai dahak, bercak darah, penurunan berat badan, keringat malam, atau demam ringan berkepanjangan, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk menjalani skrining TBC.
Ia juga mengajak masyarakat memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di puskesmas dengan membawa Nomor Induk Kependudukan (NIK). Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat menjalani pemeriksaan kesehatan sekaligus skrining penyakit TBC sejak dini. (stm)






























