Kediri (KUBUS.ID) – Isu pencopotan Purbaya dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan dan pelantikan Suahasil Nazara yang baru saja dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto masih menjadi perbincangan hangat di kalangan publik. Di tengah berbagai spekulasi yang berkembang—mulai dari sekadar penyegaran birokrasi hingga adanya motif politik di baliknya pakar kebijakan publik, Setyo Wahyu Sulistyono, S.E., M.E., memberikan pandangan mengenai transisi krusial di tubuh Kementerian Keuangan ini.
Setyo menilai bahwa pergantian ini harus dilihat dari perspektif momentum dan kebutuhan penguatan ekonomi nasional saat ini. Meski pencopotan Purbaya yang baru menjabat sekitar satu tahun terkesan mendadak, ia mengimbau publik untuk menyikapinya secara positif demi keberlanjutan stabilitas fiskal.
“Harapan kami tentu perubahan ini membawa dampak yang positif. Pada hari pertama pasca-pergantian, kita melihat respons pasar yang cukup baik; nilai rupiah berada di angka Rp17.600 dan IHSG sempat menunjukkan tren hijau. Ini adalah sinyal awal yang baik bagi stabilitas ekonomi,” ujar Setyo.
Setyo tidak menampik bahwa gaya kepemimpinan Purbaya yang kerap dijuluki “gaya koboi” ekspresif dan kerap memicu perdebatan publik mungkin menjadi salah satu pemicu ketegangan politik selama masa jabatannya. Dari kacamata ekonomi, ia menilai langkah kontroversial yang diambil Purbaya, seperti penggelontoran dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke bank-bank Himbara, sebenarnya sudah tepat dan memberikan dampak positif yang nyata.
Meski demikian, dengan masuknya Suahasil Nazara, Setyo melihat adanya peluang besar untuk membawa Kementerian Keuangan ke arah yang lebih terukur dan teknokratis. Sebagai sosok yang sudah lama berkecimpung di internal birokrasi keuangan dan pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan di era Sri Mulyani, Suahasil dinilai memiliki pemahaman mendalam tentang APBN, APBD, dan pengelolaan fiskal.
Sebagai pengamat, Setyo menitipkan sejumlah catatan kritis yang harus segera diselesaikan oleh Menteri Keuangan yang baru, terutama mengingat saat ini Indonesia telah memasuki kuartal ketiga tahun 2026. Setyo menekankan pentingnya membangun sinergi kebijakan dan resiliensi ekonomi guna memperkuat daya tahan nasional terhadap guncangan global, sekaligus menjaga jangkar-jangkar kebijakan fiskal tetap kokoh. Di samping itu, Suahasil dituntut untuk mengawal efisiensi APBN agar anggaran menjadi lebih hemat dan tepat sasaran, termasuk memberikan dukungan penuh terhadap program-program prioritas pemerintah seperti Prabowo-Gibran, khususnya program makan bergizi gratis.
Tantangan lain yang tidak kalah mendesak adalah pengelolaan utang dan obligasi negara yang harus dilakukan secara cermat agar tidak membebani APBN, mengingat waktu yang terus berjalan. Upaya tersebut harus berjalan beriringan dengan penguatan serta stabilisasi nilai tukar rupiah untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi domestik dapat terus bergerak melalui peningkatan konsumsi masyarakat.
Pergantian Menteri Keuangan ini diharapkan tidak sekadar menjadi ajang bongkar-pasang jabatan, melainkan langkah konkret pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan pasar dan mempercepat eksekusi target pendapatan negara di tengah situasi ekonomi global yang dinamis. (rif)































