Beranda Kediri Raya Dolar Tembus Rp18.000 Lebih, Guru Besar UIN Syekh Wasil Kediri Soroti Faktor...

Dolar Tembus Rp18.000 Lebih, Guru Besar UIN Syekh Wasil Kediri Soroti Faktor Global dan Kepercayaan Investor

28
source: gemini.google.com

KUBUS.ID – Melemahnya nilai tukar rupiah hingga menembus Rp18.000 lebih per dolar AS menjadi perhatian serius berbagai kalangan. Guru Besar Bidang Ilmu Keuangan dan Perbankan UIN Syekh Wasil Kediri, Prof. Dr. Hj. Naning Fatmawatie, M.M., menyebut kondisi tersebut sebagai kurs psikologis yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Ini merupakan kurs psikologis. Sangat memprihatinkan karena baru pertama kali terjadi dan harus menjadi perhatian serius,” kata Prof. Naning.

Menurutnya, pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor eksternal, seperti kenaikan suku bunga di negara maju yang mendorong investor global memindahkan dananya ke aset dolar AS. Ketidakpastian geopolitik dunia dan menguatnya dolar AS juga turut menekan nilai tukar rupiah.

Selain faktor global, Prof. Naning menilai kondisi dalam negeri ikut berpengaruh. Ia menyebut menyempitnya surplus neraca perdagangan serta menurunnya kepercayaan investor menjadi salah satu penyebab melemahnya rupiah.

“Investor membutuhkan kepastian. Ketika komunikasi kebijakan pemerintah tidak jelas dan menimbulkan multitafsir, kepercayaan pasar bisa menurun. Ini yang perlu segera diperbaiki,” ujarnya.

Prof. Naning menilai pemerintah perlu memperkuat komunikasi publik dan menunjukkan kinerja yang nyata agar optimisme masyarakat dan investor kembali tumbuh.

“Pemerintah harus membuktikan kinerjanya melalui program dan kebijakan yang benar-benar dirasakan masyarakat. Kepercayaan tidak cukup dibangun dengan pernyataan, tetapi dengan bukti nyata,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pelemahan rupiah berpotensi menambah tekanan bagi pelaku usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan biaya produksi dapat mengurangi keuntungan usaha, bahkan berisiko memicu pengurangan tenaga kerja jika berlangsung dalam jangka panjang.

“Modal usaha akan bertambah karena bahan baku impor menjadi lebih mahal. Jika kondisi ini berlanjut, bukan tidak mungkin pelaku usaha terpaksa melakukan efisiensi, termasuk mengurangi tenaga kerja,” jelas Prof. Naning.

Kepada masyarakat, Prof. Naning mengimbau agar lebih bijak mengelola keuangan di tengah ketidakpastian ekonomi.

“Masyarakat perlu menyusun skala prioritas, menyiapkan dana cadangan, dan meningkatkan kompetensi agar lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi ke depan,” pungkasnya. (stm/rif)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini