Beranda Nasional Jenguk Santri Keracunan MBG Sidoarjo, Wamenag: Mereka Tetap Butuh MBG

Jenguk Santri Keracunan MBG Sidoarjo, Wamenag: Mereka Tetap Butuh MBG

823
Wakil Menteri Agama, Romo Syafi'i saat menjenguk santri keracunan MBG di RSUD Notopuro. (Kemenag)

KUBUS.ID, SIDOARJO – Di tengah sejumlah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, yang menjalani perawatan setelah mengalami keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menyebut para santri tetap membutuhkan program tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Syafi’i saat menjenguk para santri di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jumat (4/9/2026). Menurutnya, MBG selama ini dinantikan para santri karena membantu memenuhi kebutuhan makan mereka.

“Selama ini mereka menunggu dan mereka sangat membutuhkan MBG itu. Terbukti sudah berjalan hampir setahun, tidak ada masalah. Makanya keinginan untuk mendapatkan itu cukup tinggi,” ujarnya dikutip dari situs resmi Kemenag.

Pernyataan tersebut disampaikan saat delapan santri masih menjalani perawatan di rumah sakit. Lima di antaranya dijadwalkan pulang, sedangkan tiga lainnya masih mendapat perawatan lanjutan.

Syafi’i mengatakan kondisi para santri tidak terlalu berat. Keluhan yang disampaikan mayoritas berupa gangguan pada perut dan rasa mual.

“Itu memang gangguannya perut, agak mual, tapi tidak bisa muntah. Tapi tidak terlalu berat,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut. Dari keterangan awal para santri, telur dan sayuran menjadi dua menu yang paling banyak disebut.

“Tadi kita tanya penyebabnya itu yang dominan di dua menu, telur dan sayuran,” katanya.

Syafi’i menyebut kemungkinan persoalan perlu ditelusuri dari proses pengolahan makanan hingga waktu konsumsi. SPPG yang memasok makanan ke pesantren tersebut juga akan dievaluasi.

“Ini pasti apakah proses masaknya atau jadwal makannya yang tidak sesuai dengan ketentuan yang ada di juknis,” ujarnya.

Ia menegaskan investigasi dilakukan untuk mencari tahu penyebab kejadian, bukan untuk menentukan perlu atau tidaknya program MBG.

“Kita kan harus ada investigasi. Bukan investigasi masuk ke wilayah perlu tidaknya MBG, tapi ini ada apa. Itu yang perlu kita selesaikan,” tegasnya.

Menurut Syafi’i, MBG di Ponpes Manbaul Hikam telah berjalan hampir satu tahun dari SPPG yang sama dan sebelumnya tidak menimbulkan persoalan serupa.

“Di pesantren ini sudah hampir setahun dari SPPG yang sama dan tidak ada persoalan. Baru kali ini ada persoalan,” katanya.

Di sisi lain, Kementerian Agama tetap mendorong perluasan MBG ke pesantren dan madrasah. Syafi’i menyebut cakupan penerima manfaat di lingkungan tersebut saat ini masih sekitar 42 persen.

“Kami justru sekarang sedang ngebut agar tidak ada lagi pesantren yang tidak mendapat jatah MBG. Termasuk juga madrasah,” ujarnya.

Kasus di Manbaul Hikam kini menjadi bahan evaluasi, sementara pemerintah tetap mempertahankan arah perluasan program MBG bagi lembaga pendidikan keagamaan. (nhd)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini